Persembahan Terakhir

15 oktober 2018
Sudah sekitar 7 tahun aku tidak lagi bertemu dengan sosoknya. Dia yang aku sayangi, dia yang selalu ada ketika aku membutuhkannya, dia yang menemaniku dalam gelap malam, dia yang melepas ku perlahan untuk melihat dunia luar yang kejam, dan dia yang meninggalkanku saat aku sedang bahagia dengan duniaku. Dia adalah seorang ibu yang sangat aku rindukan.

7 oktober 2011

Jam sudah menunjukkan pukul 23.00,mataku ntah kenapa tidak bisa terpejam, aku tidak bisa tidur, aku takut dan deg degan. Ya, besok aku akan mengikuti lomba tari tingkat nasional yang diadakan di kampus terkenal di kota ku.
“baiklah, latihan sekali lagi,lalu aku harus bisa tertidur bersiap lah untuk hari esok Sa” ucapku pada diri sendiri.
Baru saja aku akan menyetel musik untuk tarianku, tiba tiba pintu kamar ku terbuka dan terlihatlah sosok mama yang tersenyum menatapku.
“belum tidur Sa?” mama duduk di pinggir ranjang.
“belum ma, Sashi masih deg degan”
“Sini tidur bareng mama, akan mama berikan tips supaya kamu tidak deg degan lagi” tentu saja aku sangat antusias dan langsung berlari ke arah mama.
“Besok mama akan datang dan duduk di barisan paling depan untuk menyemangatimu, kamu lihat mama kalau deg degan ya” Kata mama menatapku dengan lembut
“Wah baiklah sekarang aku sepertinya akan tidur nyenyak ma dan tidak sabar menanti hari esok”. Mama kemudian mematikan lampu lalu mencium keningku dan keluar menutup pintu kamar.

~

“Baiklah,peserta selanjutnya kita panggilkan SASHI DELITA dari SMP Karya Bangsa”
Sashi maju dengan semangat, walaupun rasanya sangat deg degan tapi ia yakin dengan melihat mama semua rasa panik, deg degan dan takut akan hilang.
Sashi tersenyum, matanya terus melihat kedepan untuk mencari mamanya. Tapi ternyata sampai tariannya selesai ia tidak menemukan sosok mama duduk untuk melihat penampilannya. Sashi kesal dan marah karena fokus mencari mama, tariannya jadi kacau. Hingga saat pengumuman pemenang ia kalah telak. Mama tidak menepati janji, mama lupa padanya, mama tidak sayang dengannya, Sashi menangis dan saat itu juga ayah datang untuk menjemputnya.
Sashi diam saja di dalam mobil,tidak mengeluarkan sepatah kata apapun. Sedari tadi ayah juga hanya diam saja, biasanya ayah akan selalu mengajaknya ngobrol. Ntah itu hanya perasaannya saja atau memang sedari tadi ia yang mendiamkan ayah karena sibuk melamun dan kesal.
Begitu tiba dirumah, Sashi langsung masuk kamar dan menguncinya. Ia benar benar sedang dalam keadaan yang tidak baik.

Sashi terbangun dari tidurnya ketika mendengar suara ketukan pintu. Ternyata didepan kamarnya mama sudah berdiri menunggu pintu dibuka, seperti tidak menyadari kesalahannya, mama bertanya “bagaimana penampilanmu Sashi?” aku tidak menjawab, lalu mama terdiam, ku pikir mama sudah tau apa kesalahannya, lalu ia melanjutkan ” Oh iya, penampilan Sashi nya mama akan selalu bagus dan pasti sangat memukau, sayang sekali tadi mama tidak bisa datang karna harus ikut arisan,maaf ya Sashi” aku tertegun, mama lebih mementingkan arisan daripada melihat penampilanku “Oh gapapa” aku langsung masuk kamar dan kembali menguncinya.

Setelah kejadian itu, aku selalu bersikap acuh pada mama, dan mama pun tidak pernah minta maaf atau mengerti kesalahannya dan mungkin saja mama juga tidak menyadari perubahan sikap ku ini. Ya, karena mama memang tidak pernah mempedulikan aku.

Sudah hampir seminggu aku lalui hari tanpa bercerita dengan mama seperti dulu. biasanya pulang sekolah, aku selalu ke kamar mama untuk menceritakan kejadian yang aku alami di sekolah, baik itu penting ataupun tidak.
Memang setiap makan malam, mama selalu memancingku untuk bercerita dengannya. Mulai dari menanyakan pr, sampai yang tidak penting sama sekali seperti “tadi di sekolah, Sashi ke toilet berapa kali?” Dan tentu saja aku selalu mendiamkannya atau menjawab hanya dengan gumaman saja, setelah itu aku kembali ke kamar.

Tapi, sudah sekitar 2 hari terakhir ini, aku jarang sekali melihat mama ada dirumah. Ah, mungkin sedang sibuk arisan, pikirku.

13 oktober 2011

Hari ini, aku hanya makan malam bersama ayah tanpa mama. Aku jadi merasa bersalah pada mama, apakah yang aku lakukan sangat keterlaluan? Apakah mama sakit hati dengan apa yang kulakukan dan memutuskan untuk meninggalkanku? Aku ingin bertanya pada ayah, tapi ayah juga terasa sangat berbeda saat ini. ayah yang biasanya selalu ceria jika bersamaku ntah kenapa menjadi pendiam dan banyak melamun. Ruangan makan ini terasa sangat sepi,hanya terisi oleh dentingan sendok yang beradu dengan piring. Selesai makan, aku memberanikan diri bertanya pada ayah.
“ayah, mama kemana?” Seperti yang aku duga, ayah bergeming tidak menjawab.
“ayah?” Tetap bergeming. Aku memegang tangan ayah. Ayah pun menoleh ke arah ku “kenapa Sa?” sahut ayah.
“Em mama kemana?” Ayah menatapku dengan tatapan yang aku tidak mengerti maksudnya. Lama ayah terdiam, sampai ketika handphone ayah berdering tanda ada yang menelfon, aku pun tau jawabannya.

“sebentar ya Sa, ayah jawab telfon dulu” Ayah pergi ke kamarnya, aku yang penasaran mengikuti ayah diam diam karena tidak biasanya ayah mengangkat telfon saat sedang berbicara denganku kecuali hal yang memang sangat penting dan itu juga ia akan meminta persetujuanku dulu.

“Iya, jadi gimana dok?”
“Tidak ada jalan lain dok selain operasi?”
“Masih tidak mau operasi?”
“Lakukan apapun dok, pokoknya istri saya harus selamat. Sebentar lagi saya akan sampai di rumah sakit”

Siapa yang sakit? Istri? Apakah ayah punya istri selain mama? Ayah nikah lagi? Tapi kapan? Apa benar ayah selingkuh?

” Iya dok, bagaimana pun caranya, saya ingin istri saya Lita Nodelia harus sembuh seperti sedia kala”

Aku kaget mendengarnya, mama sakit apa? Apakah ini karena perbuatan ku? Aku harus bagaimana? Mengapa tidak ada yang memberitahuku? Atau aku yang terlalu acuh pada mama? Aku tidak sanggup mendengar semuanya, lalu aku kembali ke ruang makan dan memutuskan menunggu ayah kembali dari kamarnya.Tidak lama kemudian, ayah datang untuk melanjutkan makannya.
“mama sakit apa yah?” tanyaku sambil menahan tangis dengan menggigit bibir bawahku.
“kamu mendengar pembicaraan ayah?” Ayah menatapku dengan sendu
“MAMA SAKIT APA? KENAPA HARUS DI OPERASI? SEBERAPA PARAH PENYAKIT MAMA? APA SEMUANYA KARNA AKU? AKU YANG TERLALU EGOIS?” Aku menangis tersedu sedu, tidak bisa lagi ku tahan air mata ini. “boleh aku ikut ke rumah sakit?” tanyaku dengan nada lemah pada ayah yang juga telah mengeluarkan air matanya. Ayah mengangguk “boleh sayang, sekarang kita lihat mama ya”
~
“mama” ku panggil pelan wanita yang tengah terbaring di ranjang rumah sakit ini. Perlahan ia menoleh ke arah ku, bisa ku lihat wajahnya yang kaget namun segera ia ubah dengan senyuman tulus. Ia merentangkan tangannya,dengan segera aku berlari dan memeluknya erat.
Aku menangis di pelukannya, mama mengelus kepalaku “kenapa nangis Sa? Ada kejadian apa di sekolah? Atau Sisha sakit? Sakit apa Nak? ” aku menggeleng dengan kuat. Aku harus tegar, bukan aku yang sakit dan bukan aku yang butuh mama tapi mama yang butuh aku. Dengan cepat ku usap air mata ku dan berusaha tetap tenang dan tersenyum untuk mama.
Semalaman aku menginap dirumah sakit menemani mama, aku tidak mau pulang terlebih lagi mengingat yang telah aku lakukan padanya seminggu belakangan ini. aku bercerita dengan mama semalaman sampai aku melihat mama tertidur ketika mendengar cerita mengenai hari hari ku disekolah. Mungkin mama ngantuk dan capek mendengar ceritaku, tapi yang ku tau biasanya mama tidak pernah capek bahkan bosan untuk mendengarkan aku. Aku yang kebetulan juga mengantuk,segera tertidur di ranjang rumah sakit disamping mama.

Setelah pulang sekolah, aku langsung ke rumah sakit untuk menemani mama. Begitu sampai di depan pintu ruang inap, aku mengingat kembali apa yang telah dikatakan ayah padaku semalam saat perjalanan ke rumah sakit.

“Sa, kamu masih marah sama mama?” aku tidak menjawab. “Sebenarnya, mama itu bukan tidak mau datang melihat penampilanmu, tapi saat itu tiba tiba mama sakit perut sampai pingsan, ayah ditelfon sama mbak Ita tetangga didepan rumah kita, lalu ayah langsung bawa mama ke rumah sakit. Ternyata dokter memvonis mama terserang virus kanker serviks yang sudah dalam tahap lanjut. Mama juga tidak tau kenapa bisa tiba tiba, karena dia tidak pernah merasakan gejala apapun. Selama ini, mama hanya minum obat obatan tradisional karena dia tidak mau operasi. Mama sengaja bilang ke ayah, jangan dulu kasih tau kamu.” Aku kembali menangis mendengar cerita ayah. Aku selalu mengira mama tidak lagi peduli padaku, aku sangat merasa bersalah sekali pada mama. Ayah melanjutkan “Ayah juga minta maaf kalau selama ini ayah diamin kamu, ayah jadi seperti tidak peduli padamu, tapi yang ada di pikiran ayah adalah bagaimana mamamu bisa sembuh”. Ayah diam sebentar, melihatku yang menangis sesegukan lalu ia memelukku “kamu kalau ketemu mama, harus tegar ya, harus bisa bikin mama semangat buat sembuh, ayah yakin walaupun kamu marah selama apapun kamu tetap akan peduli sama mama kamu”. Aku makin menangis dalam pelukan ayah.

Aku duduk di kursi panjang yang ada di koridor rumah sakit. aku melamun lalu kembali mengeluarkan air mata sedikit demi sedikit mengingat perbuatan ku yang mungkin membuat mama sakit hati. Aku menenangkan diri, berusaha untuk tetap tegar. Aku memasuki kamar inap mama, dan ternyata mama sedang tidur. Ku tatap wajah wanita yang telah melahirkan ku ini. Wajah yang selalu membuatku tenang, apapun yang terjadi. Senyuman yang membuat hatiku damai, seolah semuanya akan baik baik saja. Tatapannya yang meyakinkan ku bahwa aku pasti bisa melakukan apapun dengan usahaku sendiri. Serta tubuh hangatnya yang selalu memelukku dengan erat dan membisikkan kalimat yang selalu membuatku bersemangat. Kini wajahnya tidak lagi berseri seri, senyumannya tidak lagi selebar dulu, tatapannya tidak pernah berbinar lagi, dan tubuhnya sudah sangat kurus dan tidak sehangat dulu lagi. Aku menangis lagi, ntah sudah berapa tetes air mata yang ku keluarkan hari ini.
“Sashi jangan nangis lagi, mama sedih kalau liat sashi nangis terus” ternyata mama sudah bangun. “Sashi berisik ya ma, makanya mama bangun?” mama tersenyum lalu menggeleng pelan.
“Sashi maafin mama ya, Mama tidak datang waktu sashi lomba nari padahal mama udah janji-” “Ohiya!! Ma Sashi lupa ngasih tau kalau besok Sashi ikut lomba nari lagi” Aku langsung memotong ucapan mama, begitu mengingat lomba yang akan aku ikuti besok. “Mama bisa nonton nggak?” seharusnya aku tidak menanyakannya, karena aku sudah tahu jawabannya. Dengan kondisi seperti ini mana mungkin mama bisa melihat pertunjukanku.
Mama mengangguk “mama bisa nonton Nak”. Aku senang mendengarnya dan langsung memeluk mama “tapi nanti kita minta persetujuan dokter dulu ya” aku mengangguk dengan semagat.

15 oktober 2011
Aku sudah siap di backstage untuk menunggu giliran ku menari, aku melihat ke arah penonton takut kalau mama tidak datang lagi. Setelah mataku mencari mama, akhirnya ku lihat mama berada ditengah menggunakan kursi roda bersama ayah di belakangnya. Aku sangat senang.
Begitu nama ku dipanggil, aku langsung naik ke panggung dan melihat mama yang juga sedang melihatku.
Aku menari dengan semangat,karena aku harus bisa memberikan kebanggaan pada mama.
Setelah selesai menari, aku kembali ke backstage dan memutuskan untuk menghampiri mama tapi tidak ada, mungkin sudah waktunya kembali ke rumah sakit.
Kini, pengumuman pemenang pun akan dibacakan. Semua peserta didampingi oleh orangtuanya tapi tidak denganku, mama bisa melihat penampilanku saja aku sudah bersyukur.
“pemegang piala bergilir tahun ini adalah SASHI DELITA” Aku kaget bercampur terharu,karena setidaknya aku bisa membuat mama bangga padaku dengan membawa piala ini ke hadapannya.
Aku maju kedepan, untuk mengambil pialanya.
“silahkan Sashi ada yang ingin kamu sampaikan?” kata sang pembawa acara.
Aku terseyum mengangguk “terimakasih buat semuanya. Terutama buat mama dan ayah yang selalu mendukung sashi. Piala ini sashi tujukan untuk mama,semoga mama bisa cepat sembuh dan bisa menemani sashi di lomba lomba berikutnya. Terimakasih”. Aku langsung berlari dan bergegas menuju rumah sakit.

Sesampainya di rumah sakit, aku berlari dengan cepat menuju kamar mama seolah tidak ingin melewatkan satu detik pun untuk menceritakan kebahagiaan ini. Dari kejauhan,aku melihat banyak orang di depan ruang inap mama. Aku langsung mememukan ayah dan bertanya ada apa. Melihat ayah yang berlinang air mata, ku pikir aku tau jawabannya. Aku langsung menerobos masuk walaupun sempat di halangi oleh ayah. Setelah berhasil masuk, bisa ku lihat banyak dokter dan suster yang mengelilingi mama. Ku lihat wajah pasrah sang dokter. Aku tidak kuasa menahan tangisanku, mengapa harus sekarang saat aku sedang bahagia, saat piala kemenangan ini ingin ku perlihatkan pada mama, agar mama bisa sedikit saja mengingatku sebagai anak yang membanggakan. Aku bersandar di dinding, tubuh ku lemas tidak bisa lagi untuk menopang badan ku. Bisa ku lihat satu persatu dokter dan suster keluar melewatiku dengan tatapan iba, ketika semua orang sudah keluar aku langsung memeluk mama dengan erat dan menangis di pelukannya untuk mungkin ini yang terakhir kali. Kurasakan tangan mama perlahan mengucap puncak kepalaku dan menciumnya, lalu membisikkan kalimat “mama bangga sama kamu Sa, apapun yang kamu lakukan mama akan selalu bangga sama kamu. Jangan pernah berhenti mengejar cita cita kamu. Jangan pernah merasa kamu sendiri, kalau mama gak ada. Kamu bisa membangun bahagia kamu sendiri. Kamu jadi anak baik ya, kamu harus buktikan sama mama suatu saat kamu akan menjadi orang yang berhasil. Mama minta maaf Sa, mama udah gak kuat, mama pergi dulu sayang” Aku menangis dengan keras dan memeluk tubuh mama yang sudah tidak bernyawa. Ku lihat ayah masuk dan memelukku “ayah, mama masih hidup yah, Sashi bawain piala buat mama, sashi banggain mama kan yah? Sashi gak bikin mama sakit kan yah? Ayah jawab, mama masih hidupkan? Ini bercanda kan yah? ” Ayah hanya menangis sambil terus memelukku yang berontak dipelukannya.

~~~

Tidak terasa air mataku jatuh perlahan lahan mengenang kejadian pahit itu. Tepat di 7 tahun mama meninggalkanku, didepan makamnya aku ingin mengatakan bahwa aku bisa menjadi orang sukses, aku bisa meraih mimpiku menjadi seorang penari yang hebat, aku bisa menciptakan bahagia ku sendiri, aku bisa bangkit saat jatuh, aku bisa jadi orang yang mandiri. Aku harap mama juga bisa bangga kepadaku. Aku sangat merindukanmu mama, aku rindu belaian kasih sayang darimu, pelukan hangatmu, kalimat kalimat penyemangatmu, senyuman tulus dari bibirmu, semuanya sangat aku rindukan. Kupikir, sudah waktunya aku untuk kembali kerumah. Selamat tinggal mama, nanti aku akan kembali lagi.

Iklan

Dewi Kegelapan

Hewan hewan berbunyi berselingan
Jam dinding berdetak beraturan
Kicauan burung tak henti bersahut sahutan
Hanya ada satu keluhan pada malam ini
Tidur tak nyenyak
Mereka semua terselimuti kegelisahan
Tidak mengerti apa maksud semua ini
Kedatangan sang dewi kegelapan mengejutkan semua insan
Tak ada yang berkutik
Seolah paham maksud kedatangan sang dewi
Yakni mengambil jiwa seorang insan yang terus berdiri di tengah kedukaan
Sebab separuh jiwanya telah direnggut oleh semesta
Tidak ada gairah melanjutkan hidup
Padahal luka itu telah lama hilang
Namun pikiran nya masih terbayang bayang
Betapa ia sangat benci semesta
Betapa ia menistakan semua manusia
Betapa ia bagai terombang ambing ditengah lautan”
Tak ada penolong menuju tepian
Tersesat ditengah kedukaan memang sangat menyeramkan
Bisa merubah malaikat layaknya seorang penjahat
Sungguh,semua yang melihat ikut teriris hatinya
Ingin menyelamatkan
Namun apa daya ombak sudah sangat besar
Dan satu satunya jalan hanyalah dewi kegelapan
Membawanya bersatu bersama sang kegelapan
Dan akan hilang selamanya.